Hampir seluruh apa yang belakangan kita sebut sebagai Kitab Tafsir adalah hasil dari satu periode yang dikenal sebagai fase Pembukuan (Tadwin), dimulai pada sekira abad ke-2 Hijriyah. Mulanya, pembukuan terhadap khazanah pengetahuan Islam dimulai dengan dibukukannya hadits-hadits Nabi Saw. Di sinilah, pada salah satu bagian dalam kitab-kitab hadits inilah, ditemukan pula serangkaian penjelasan dari Nabi Saw mengenai makna dari ayat-ayat al-Quran. Pemaknaan ini kemudian lebih terkenal dengan sebutan tafsir.
Dengan kata lain, uraian-uraian tekstual terkait tafsir al-Quran pada mulanya menumpang pada kitab-kitab hadits. Hingga Abu Jakfar al-Thabari menggubah sebuah kitab yang berjudul Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ayi al-Quran. Di situ Imam al-Thabari mengulas dengan panjang lebar segala hal terkait pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Quran (Tafsir al-Quran).
Memang, terdapat sejumlah kitab tafsir yang dinisbatkan kepada sejumlah tokoh yang hidup jauh sebelum masa pembukuan ini. Sebut misal penafsiran-penafsiran al-Quran-nya sahabat Ibn 'Abbas. Tetapi tentu saja kitab yang kemudian diketahui bernama Tanwir al-Miqbar fi Tafsir Ibn 'Abbas ini tidak dikarang oleh Ibn 'Abbas itu sendiri, melainkan oleh seorang ulama bernama al-Fairuzabadi. Kitab Tafsir Ibn 'Abbas dengan demikian merupakan kompilasi belaka dari riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Ibn 'Abbas dan yang dapat dikumpulkan oleh penulisnya. Ini mirip dengan keberadaan Tafsir-Tafsir seperti Tafsir al-Ghazali atau Tafsir Ibn 'Arabi, yang dikompilasi oleh bukan Imam al-Ghazali dan Ibn 'Arabi sendiri. Tafsir Ibn 'Arabi, misalnya, yang diberi judul dengan Tafsir wa Isyarat al-Quran min Kalami al-Syaikh al-Akbar disusun oleh Mahmud al-Ghurrab dalam tempo hampir 25 tahun.
Berangkat dari fase Tadwin inilah kemudian bertebaran kitab-kitab tafsir. Hingga di periode-periode masa kini, ketika kita dapat membaca al-Tafsir al-Bayani li al-Quran al-Karim karya Aisyah Abdurrahman bintu al-Syathi atau Tafsir al-Manar-nya Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Sampai di Nusantara, kita mengenal karya-karya seperti Turjuman al-Mustafid karya Syeikh Abdur Rauf Singkel, Tafsir Al-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir al-Furqon karya Ahmad Hassan, Tafsir al-Ibriz (bahasa jawa) karya Bisri Musthofa, Tafsir Al-Azhar karya Hamka, atau Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab.




Goomsite.Net
0 Komentar untuk"Catatan 5 - Sejarah Tafsir Pasca Pembukuan"