Praktik penafsiran terhadap al-Quran telah dimulai pada masa Nabi Saw. Sebagai sosok yang kepadanya diturunkan al-Quran, Nabi juga memiliki tugas untuk memberikan penjelasan (bayan) atas apa-apa yang mungkin saja tidak dipahami dari al-Quran (Mubham). Pada titik inilah, sekalipun apa yang muncul dari Nabi pada dasarnya adalah wahyu juga (in huwa illa wahyu yuha), Nabi dapat disebut sebagai perintis pertama dalam upaya penafsiran al-Quran. Bahkan pada masa-masa kenabian, Nabi bisa juga dikategorikan sebagai satu-satunya penafsir.
Praktik tafsir Quran selanjutnya diteruskan oleh para sahabat. Ini terutama dilakukan oleh para petinggi dari kalangan sahabat (kibar sahabat), yang memang memiliki kedekatan sangat erat dengan Nabi Saw, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sebagainya.
Pada masa ini, para sahabat saling membantu dalam upaya memahami al-Quran. Sahabat yang dekat dengan Nabi, yang karenanya memperoleh cukup banyak informasi mengenai penafsiran pada ayat-ayat al-Quran tertentu, memberikan penjelasan pada sahabat yang lain, yang mungkin saja tidak atau belum pernah mendengarnya akibat jauh atau tidak senantiasa berkesempatan untuk berkumpul dengan Nabi Saw.
Pengetahuan mengenai tafsir al-Quran di masa ini lalu diwariskan kepada para Tabiin. Ketika kemudian di masa ini terjadi proses pembukuan (tadwin) di pelbagai bidang keilmuan, wa bil khusus dan mula-mula ilmu hadits, tafsir al-Quran juga mulai dilakukan pembukuan (dalam hal ini menjadi bagian dari pembukuan hadits). Sampai kemudian beberapa ulama di masa setelahnya membukukan sejumlah kita tafsir yang independen, dimulai diantaranya oleh Ibnu Jarir al-Thabari.
.jpeg)




Goomsite.Net
0 Komentar untuk"Catatan (1) - Sejarah Tafsir Sebelum Pembukuan"