Kitab Tafsir pertama tidak lahir di masa Nabi, juga tidak pada periode Sahabat Nabi. Memang, terdapat tafsir yang dinisbatkan pada beberapa orang Sahabat Nabi, diantaranya Ibnu 'Abbas, tetapi tentu saja kitab itu baru digubah jauh comedian, bukan oleh Ibnu Abbas sendiri, melainkan oleh al-Fairuzabadi.
Dalam hal ini, al-Fairuzabadi berfungsi hanya sebagai pemulung (yang mendokumentasikan) serangkaian penafsiran yang dirujukkan (dinisbatkan) kepada Ibn Abbas. Kitab ini kemudian diberi nama Tanwir al-Miqbas fi Tafsir Ibn Abbas.
Seperti pernah disebut dalam catatan sebelumnya, penulisan tafsir al-Quran sebagai disiplin yang independen terjadi pada masa-masa pasca sahabat, atau lebih tepatnya pada abad-abad ke 2 atau 3 H. Di sinilah muncul tokoh-tokoh seperti al-Thabari, dengan kitab Jami al-Bayan fi Tafsir Ayi al-Quran, yang menulis sendiri kitab tafsirnya.
Lalu ada Ibn Majah, yang penafsirannya atas al-Quran dikumpulkan dalam Tafsir al-Quran inda Ibn Majah. Dari judulnya saja tampak kalau kitab ini tidak ditulis oleh Ibnu Majah sendiri. Inilah pula yang membuat tokoh-tokoh seperti Mujahid, Hasan al-Basri, dan sebagainya, yang waktu itu juga sudah eksis sebagai mufassir, dan mungkin saja kemudian penafsiran-penafsirannya terhadap al-Quran juga dibukukan, pada umumnya tidak disebut sebagai pengasas kitab tafsir.
Konon, sebelum Tafsir Thabari beredar, sudah ada Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Pendapat ini belakangan saja muncul, dan karenanya sejumlah orang masih meragukan karya Muqatil sebagai kitab tafsir yang dapat diberi predikat sebagai kitab tafsir pertama.
.jpeg)




Goomsite.Net
0 Komentar untuk" Catatan 3 - Kitab Tafsir Pertama "